Posts

Showing posts with the label Poem

Bagaimana Tanda Menangkap Kita?

Dalam suatu titik, kita pernah memiliki suatu kelebat gambar dari setiap hal yang berkorelasi dengan apa yang dilihat saat ini atau bahkan tidak berkolerasi dengan indera, tapi dengan besutan rasa memiliki. Dalam suatu koma, kita pernah berhenti hanya untuk memisahkan dua makna yang berdiri dalam satu hubungan dan menghadirkan jeda atas intrik yang kerap memaksa kita terus berjalan tanpa mengerti. Dalam suatu tanya, kita pernah membayangi diri dengan angan-angan di masa datang dan memikirkan kans untuk menyambungkan arti entitas dalam satu kalimat yang tidak sepaham senarasi. Dalam suatu seru, kita mengadu, mengemis, dan mendobrak keras dinding yang tidak bersimpati. Dalam suatu tanda, kita mengetahui bahwa kontinuitas ini bergantung pada kita sendiri, baik berakhir dalam titik henti bersama atau sendiri.

Asmaraloka

         Ragam sastra ini hanya ditujukan sebagai sebuah pengingat atas apa-apa yang telah mencederai, mengamputasi, bahkan membunuh rasa ‘ada’ dari manusia yang dianggap makhluk paling sempurna di muka bumi. Di balik rahasia, telah terbungkam kasih yang terendam dalam banjir afeksi sebagai akibat tidak mengalirnya kemanusiaan ke bilik yang sepatutnya. Kemanusiaan itu terbendung pun tercabik. Seakan-akan memberikan potret kejumawaan potensial dari segelintir orang yang menutup aliran itu dengan rapat. Segelintir yang berjumlah tidak tentu, yang rasanya mencekik label universal sebagai suatu entitas manusia. Dalam ragam sastra ini pula, saya tidak akan menghubungkan cerita dengan konstruksi hukum – wujud ketegasan peraturan -  yang memang ada untuk memberikan kebahagiaan bagi seluruh masyarakatnya, tetapi saya mengajak atau dalam tataran yang lebih tinggi, menuntut sebuah konsep mendasar bagi tiap orang, tiap individu, menanamkan suatu postulat untuk tida...

Makna Senja

Termenung dalam senja Lembayung warna duaja Membiarkan memori bersuara Melantaskan kasih jiwa berjasa Kisah sarat bahasa Berselimut nuansa makna Kini, ruang pikir sesal Sekadar perilaku rasional Terlontar pada insan ideal Lalu, Jiwa berontak, Terkurung, Padahal tidak terlontang-lantung, Lalu, Raga mengadu Berteriak gagal sendu Padahal masih bilangan satu Lalu, Tak peduli rasanya, Hiraunya, Menuntut jiwa sempurna Sosok utuh dalam buana Kini, Jiwa bertanya Merasakan kekosongan semu Teringat harapan beriring fasihat Menyadari kasih tak ragu bersurat Mensyukuri doa yang dekat Kini, Kita menjadi satu dalam ruang Melukis memori dalam masa Melewati garis asa Menikmati kesempurnaan senja

Enggan dan Teman

Mata terpandang berbeda Lalu, mata terarah kanan Kini, mata terarah kedepan Lalu, berdekatan Kini, berhadapan Menyita detik menjual kata Seakan enggan untuk merenggang Telinga teriris tinggi suara Lalu, telinga sepadan dengan relasi Kini, telinga tertekan dengan tensi Mulut tertahan bersalam Lalu, tertahan tuk tertutup Kini, terperanjat senyap Lalu, Keramaian arti indera melingkari kita Kini, Keheningan indera membulatkan jauh Bukan karena enggan menjadi dulu Karena dulu, indera selaras Karena dulu, tak hanya sebatas temu Kini, Jauhkan lontar sombong dari indera Telingaku telah enggan Tuk menerima tensi dengan beban Dari teman dalam keengganan.

Protesnya Jantung

Langit menghitam tanda kegelapan Terambah cahaya biru manja khatulistiwa Ranah mengeras tanda terpijak kehancuran Angin bertiup seolah tak punya tujuan Menghembuskan udara yang membawa kematian Zat yang dibutuhkan terdegradasi Terdeformasi oleh busuknya akal pribumi Melahirkan beribu harapan masa sunyi Gelap tak memiliki arti Hidupnya ya hidupnya Hidupku ya hidupku Prinsip bodoh yang mengakar di pikiran Hanya mengenal lembaran kertas Yang tak sobek jika tercuci dan berharga tanpa kadaluwarsa Mereka rupanya pintar bersandiwara Bernyanyi dan menari di atas retaknya ranah kehidupan Memikirkan kehidupannya yang mewah karena lengkapnya kami  dalam keindahan ruang hidup Sesungguhnya.. Apakah yang mereka lakukan? Dan apakah yang mereka cari? Rangka terlapis semen yang menjulang Tak menggambar akalnya yang cerdas dan akhlak yang luhur Mungkin sekarang tak terpikir Namun kelak akan berpikir Kehidupanku yang terbabati menjadi beban baru Kehilangan peneru...

Kini Bukan Lalu

Waktu tak menarik jarumnya Matahari konsisten dengan cahayanya Jalan merusak dengan sendirinya Hati kosong dengan lamanya Retaknya bentuk  Menusuk segala rusuk Tak pernah diam untuk lupa Tak yakin bisa untuk ingat Prakarsa telah habis untuk sesaat Semangat perlahan karat Lalu adalah tuntutan kesedihan Membayang janji Yang bodoh terluapkan Nyatanya, Janji adalah kebodohan Kini, kau lupa lalu Kini, kau pindahkan lalu Kini, tak pernah menyinggung lalu Kini, lalu telah lalu Kini, biarkan aku lupakan lalu Lalu? Pergilah lalu Langkah ini harus berderap Hati ini harus isi kembali Lalu, kini memang bukan tempatmu

Pendidikan atau Pembunuhan?

Jiwa terombang debu Melekatkan bara yang membunuh Menyuap secara paksa Wajah manis kecil pribumi Dengan hal yang mereka sebut ‘pendidikan’ Merenggut mental alami Yang terlahir secara sempurna Menghiasi keadaan awal yang bahagia Seperti awal kehancuran senyuman Masalah berasal dari ranahnya Perdebatan urusan tangan kanan Tak pernah berhenti mengacau ‘kelinci percobaannya’ Menelan dan menelaah Mengkritik dan memberi saran Bukanlah kuasa si kelinci Percobaan untuk membunuh Karakter jiwa tunas  satu per satu Jadi, apakah pendidikan sama dengan pembunuhan?